Tadabur Alqur an surat an naml ayat 18 tentang kisah semut yang menginspirasi

 Tadabur Alqur an surat an naml ayat 18 tentang kisah semut yang menginspirasi
*Semut yang Menginspirasi



Sebagaimana kita tahu bahwa surat An-Naml berbicara tentang peradaban dan piranti-pirantinya, namun sekarang kita bertanya, mengapa surat ini dinamakan dengan An-Naml yang berarti semut?  Hal ini tidak lain dikarenakan kerajaan semut adalah contoh keunggulan peradaban di kalangan binatang serangga.

Sekalipun kisah perihal semut hanya disebutkan dalam satu ayat saja, yaitu ayat ke-18 dari surat An-Naml, ia berisi berbagai pelajaran yang layak direnungkan.

Allah Ta’ala berfirman,
 حَتَّى إِذا أَتَوْا عَلى وادِ النَّمْلِ قالَتْ نَمْلَةٌ يا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَساكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ
_“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”_ (An-Naml: 18).

Para ulama menjelaskan bahwa sekalipun kata-kata semut ini begitu singkat, namun ia mengandung banyak hal;
_Pertama,_ kata panggilan dalam ungkapan, “Hai semut-semut” di sini ialah untuk seluruh semut, baik yang jauh maupun yang dekat, baik yang sedang bekerja maupun sedang beristirahat, baik yang sedang berjalan maupun berhenti. Semuanya dipanggil oleh seruan ini.

_Kedua,_ dalam kata panggilan terdapat peringatan, yang ini berarti bahwa apa yang akan disampaikan adalah sesuatu yang penting. Maka semuanya harus berhenti dari aktivitasnya, dan harus mendengarkan berita yang akan disampaikan.

_Ketiga,_ semut memberikan intruksi yang benar, yaitu masuk ke dalam sarang-sarang masing-masing, agar tidak terjadi kepanikan, kekacauan dan agar mereka tidak saling bertabrakan.

_Keempat,_ kemudian ia menjelaskan bahaya yang akan dihadapi oleh mereka secara khusus, yaitu kedatangan Nabi Sulaiman.

_Kelima,_ setelah menyebutkan bahaya secara khusus, maka disebutkanlah bahaya yang lebih umum, yaitu bala tentara Nabi Sulaiman. Yang tentunya jumlah pasukan dan bala tentara Nabi Sulaiman ini sangatlah besar. Alangkah bahayanya jika semut-semut itu tidak masuk ke sarangnya.

_Keenam,_ si semut mengenal reputasi Nabi Sulaiman, maka ia memberikan udzur kepada beliau dan bala tentaranya. Karenanya ia menegaskan bahwa orang-orang beriman tidak mungkin menzhalimi atau melampaui batas secara sengaja, sebagaimana dalam ayat, “sedangkan mereka tidak menyadari.”(An-Naml: 18). Ini adalah puncak adab dari seekor semut kepada Nabi Sulaiman dan para pasukannya.

Maka, semut yang memperingatkan bangsanya ini adalah pemimpin yang sukses, karena ia memberikan solusi dan jalan keluar sebelum menjelaskan persoalan sehingga anggota dapat mendengar arahannya saat kondisi sudah kondusif untuk menerima dan melaksanakan intruksi. Sekalipun sebagai konsekwensi dari peringatan ini ialah bisa jadi ia harus mengorbankan dirinya, terinjak oleh Nabi Sulaiman dan bala tentaranya, namun setidaknya ia telah menyelamatkan bangsanya. Bukankah ini menakjubkan?

Syaikh Fadhil Shalih As-Sammara’I bahkan menegaskan bahwa perkataan semut dalam surat An-Naml mengandung penunaian terhadap lima hak, yaitu hak Allah, hak Nabi Sulaiman, hak dirinya, hak rakyatnya dan hak pasukan Nabi Sulaiman.

Hak Allah ialah bahwa ia telah diamanahi untuk mengurus kaumnya, dan ia sudah melaksanakan hak mereka. Hak Nabi Sulaiman ialah bahwa si semut telah memperingatkannya tentang sekawanan semut. Hak diri si semut -yang mengingatkan- ialah ia telah menggugurkan hak Allah dari pasukannya dengan menasehati mereka. Hak rakyatnya ialah dengan menasehati mereka agar mereka masuk ke dalam sarang-sarang mereka. Dan hak pasukan Nabi Sulaiman ialah dengan memberitahukan kepada mereka, dan seluruh makhluk bahwa siapapun yang diamanahi untuk mengurus rakyatnya, maka ia harus menjaga dan melindunginya.

Sekarang, kita pun faham mengapa Nabi Sulaiman sampai tersenyum mendengar peringatan semut kecil yang menjadi teladan dalam seni kepemimpinan ini. Wallahu a’lam bish shawab.







penulis : Ibnu Abdil Bari
uplueder by : hafidz.bey
Sumber bacaan:
1. _Khawathir Qur’aniyah_
2. _As’ilah Bayaniyah fil Qur’anil Karim_ 
3. _Tada

Post a Comment

Previous Post Next Post