kenapa Kita bermaksiat? Inilah pemicu-pemicu kenapa kita maksiat. | ayo hijrah







  Assalamaualikum wr wb para sahabat semua
  pada kesempatan kali ini saya akan membagikan sebuah artikel dengan judul KENAPA KITA BERMAKSIAT? Inilah pemicu2 kenapa kita bermaksiat . agar semua pemicu ini bisa kita hindari dengan sepenuh tenaga kita.

Kita melihat seseorang dari mereka mendengarkan nasihat dan berita tentang akhirat dari seseorang yg dipercaya kejujurannya.

Lalu, ia pun menangis menyesali apa yg telah diperbuatnya dan bertekad bulat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya di masa lalu. I a berjanji tidak akan melakukan maksiat lagi, akan tetapi kenapa ia melakukan maksiat lagi dan lagi. ia terjerumus ke dalam maksiat dan susah untuk kembali lagi. padahal ia sudah bertekad tidak akan melakuan maksiat itu tap ya apa boleh dikata, ia tetap melakukannya

Apabila ia ditanya, "Apakah kamu ragu pada janji yg telah diberikan kepadamu?. apakah kamu lupa kenapa kamu melakukan maksiat ini lagi? padahal sebelumnya kamu sudah berjanji tidak akan bermaksiat lagi?

 "Maka ia akan menjawab, "Tidak, demi Allah!" aku sama sekali tidak lupa akan janjiku, aku tidak lupa akan komitmenku. aku masih ingat semua apa yang aku janjikan yang aku komitmenkan.

Maka dikatakan kepadanya, "Kalau begitu, beramallah!" tinggalkan semua apa yang telah kamukan dari maksiatmu. tinggalkan semua perbuatan dosa ini.

Saat itu juga ia akan memancangkan tekad untuk beramal, ketika dinasehati oleh saudaranya tersebut ia memiliki semangat yang mebara lagi. memeliliki komitmen lagi. seakan ia ingat bahwa dia tidak tahu kapan dia mati, maka dia bersemanagt untuk beramal lagi, namun ia lagi-lagi tak jadi beramal. ia tidak mau melakukan semaua amalan berpahala , ia enggan ingat kepada allah swt.

Terkadang ia juga tertarik pada kesenangan yg haram, meskipun ia mengetahui larangan untuk menikmatinya.

Aku lantas memikirkan dengan sungguh-sungguh  keengganan beramal sekalipun hati telah meyakini kebaikannya.

Ternyata, ia terdiri dari tiga unsur :

Pertama :
Melihat kesenangan hawa nafsu sdh ada di depan mata, ini bisa membuat seseorang tak sempat memikirkan risiko yg akan diakibatkannya.

Kedua :
Menunda-nunda tobat, kalau saja akal mau berfikir tentu ia akan memperingatkan pemiliknya akan bahaya menunda-nundanya,

karena maut bisa saja menjemputnya sewaktu-waktu, sementara tobat belum terlaksana.

Sungguh, sangat mengherankan orang yg tak mengingkari kemungkinan dicabutnya nyawa dalam rentang waktu satu jam namun ia tak mau beramal untuk mengantisipasinya.

 Hawa nafsu memang selalu memperlihatkan waktu yg tersisa masih sangat banyak.

Ketiga : Mengharapkan rahmat Allah, seorang pelaku kemaksiatan biasa mengatakan, "Robb-ku Maha Pengasih," dan lupa bahwa Dia juga punya siksaan yg pedih.

Semoga Allah memberi kita tekad kuat yg membuat kita mampu membangun kebajikan dengan sungguh-sungguh.

Post a Comment

Previous Post Next Post