Kenapa Kita Masih Bermaksiat? Inilah 5 sebab bikin Kita mudah Maksiat | nashehat hijrah


 Kita sebagai seorang hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang beriman,  dan memiliki keyakinan di dalam hati bahwasannya kelak semua amal perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban.  kita memiliki Iman di dalam hati kita bahwasanya apa apa yang kita kerjakan akan dibalas oleh Allah subhanahu wa ta'ala.  Baik itu merupakan perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk,  Kita yakin dengan saya yakin yakin nya bahwasannya apabila kita bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka kita akan dibalas oleh Allah subhanahu wa ta'ala.  Begitu pula sebaliknya apabila kita taat dan patuh kepada semua perintah-perintah dan hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka kelak akan dibalas dengan sebaik-baik balasan.   Kalau kita bermaksiat maka kita yakin bahwasanya kelak akan dibalas dengan nerakanya  Akan tetapi jika kita taat dan patuh melakukan semua perintah syariatNya, maka balasannya adalah jannahNya.  Sebagai seorang  manusia biasa yang tidak luput dari yang namanya salah dan lupa,  kita sering bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.   Entah itu dengan cara pelanggar batasan-batasan syariat Allah Subhanahu Wa Ta'ala ,  atau dengan cara kita meninggalkan perintah-perintah yang sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.  Terkadang kita lalai, lupa, terbujur hawa nafsu sehingga kita melupakan semua kewajiban-kewajiban kita.  Dan malah kita melanggar semua batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
 . Pada kesempatan kali ini kita akan membahas suatu topik yang insya Allah bermanfaat bagi kita.  Pembahasan kita pada kesempatan kali ini adalah Kenapa kita bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala?,  Kenapa kita bisa begitu mudah melanggar batasan-batasan agama?,  kenapa kita begitu berani menantang sang pemilik alam semesta ini dengan cara meninggalkan semua kewajiban-kewajiban kita.  Kita diwajibkan oleh sang pemilik alam semesta ini untuk beribadah,  akan tetapi dengan  pongahnya kita, dengan Sombongnya kita meninggalkan semua kewajiban-kewajiban tersebut.
Pembahasan Pertama : Kenapa kita bermaksiat?
 Manusia adalah makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang diciptakan dengan nikmat yang sangat banyak,  saking banyaknya nikmat tersebut kita tidak bisa menghitung nya. karena keterbatasan kemampuan kita maka kita tidak akan mampu menghitung berjuta-juta nikmat yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan.  Banyak sekali manusia yang mereka lalai dari Jalan ketaatan, mereka lebih mementingkan hawa nafsu mereka untuk mereka penuhi daripada mereka menaati peraturan dan apa-apa yang diinginkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.Kenapa kita bermaksiat?  Padahal kita yakin bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membalas orang-orang yang bermaksiat  dengan siksaan di neraka nya.  Kita memiliki iman yang Menghujam di dalam hati bahwasanya orang-orang yang bermaksiat,  kelak akan hidup susah di akhirat.  Kita memiliki keyakinan bahwa sanya orang-orang yang lupa Dan lalai dari kewajiban sebagai seorang hamba,  mereka hanya sibuk mementingkan urusan dunia mereka dan mereka enggan,emoh untuk mengurusi perkara akhirat mereka.  Kita yakin bahwasanya mereka kelak akan dibalas oleh Allah subhanahu wa ta'ala sesuai dengan yang yang mereka kerjakan di dunia hari ini. Lantas dengan semua yang kita yakini diatas Kenapa kita masih melakukan sesuatu yang sangat hina sesuatu yang sangat kita benci sesuatu yang kita ingin hindari Tapi kita masih melakukan sesuatu itu.  Apa itu Ya itu maksiat.  Ketika kita ditanya Apakah kamu suka bermaksiat?,  maka sudah pasti akan dijawab aku tidak suka yang namanya maksiat.  Ketika ditanyakan kepada kita,  Apakah kamu mencintai maksiat?,  maka sudah pasti jawabannya adalah,  bagaimana mungkin aku mencintai sesuatu yang sangat dibenci oleh rabbku.Itu semua adalah pernyataan di lisan kita,  akan tetapi sebagaimana kita mengetahui.  Bahwasannya kita juga masih sering melakukan yang namanya maksiat.  Kita masih sering melanggar batasan-batasan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.  Maka disini ada beberapa sebab-sebab yang bisa kita ketahui Kenapa kita masih bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.  Yang pada hakekatnya kita sangat membenci perbuatan tersebut. Apa sebab-sebab tersebut:  

1.   Kualitas iman kita yang jelek.




Pertama kita melakukan maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,  adalah karena kualitas iman kita yang jelek,  Kita masih memiliki keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.  Akan tetapi iman yang kita miliki tersebut sangatlah jelek.  Apa pengertian dari jelek di sini?.  Yaitu kualitasnya.  Kualitas keimanan kita masih sangat jauh cari yang namanya bagus dan berkualitas,  kita masih memiliki keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala nya, akan tetapi kita masih berani melanggar batasan-batasannya.  Lantas Bagaimana dengan kualitas iman yang bagus itu?.  Kualitas iman yang bagus itu adalah  Iman yang selalu kita pupuk,  kita rawat,  kita jaga,  kita beri nutrisi yang berkualitas,  dan kita obati jika iman yang kita miliki tersebut sedang sakit. Kemudian Bagaimana cara memupuk iman kita,  caranya adalah dengan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan kemudian kita amalkan ilmu yang telah kita miliki tersebut.
Bagaimana cara merawat  iman kita?, caranya adalah dengan kita bergaul dengan saudara-saudara  seiman kita.  Saudara-saudara kita yang yang akan mengingatkan kita akan jalan yang benar dan menasehati kita apabila kita melakukan sebuah kemaksiatan.  Ini adalah cara kita untuk merawat iman yang kita miliki,
kemudian Bagaimana cara kita menjaga dan memberi nutrisi yang berkualitas?, iman yang kita miliki ternyata juga perlu untuk kita jaga. Cara menjaga iman kita adalah dengan menolak semua hal-hal yang akan menjadikan iman kita lemah, contohnya adalah perbuatan perbuatan sia-sia, perbuatan yang tidak ada manfaatnya.  Dan segala perusak iman yang kita miliki Apa itu?,  yaitu segala bentuk kemusyrikan, kefasikan,  kemunafikan.  Dan segala bentuk serangan serangan musuh dari kaum muslimin yang mereka lancarkan untuk menjauhkan umat Islam dari keimanan yang benar.
Adapun nutrisi dari keimanan yang kita miliki adalah kita harus memberikan Supply berupa ilmu.  Karena dengan ilmu yang kita miliki kita akan semakin yakin dengan keimanan kita.  Kita akan semakin kuat dalam  menggenggam keimanan di dalam hati kita.
Itu adalah yang pertama yang menjadikan kita masih bermaksiat, yaitu  karena kita masih memiliki sebab yang pertama ini yaitu kualitas iman yang jelek .  Semoga kita bisa meningkatkan kualitas iman yang kita miliki agar kita mampu  untuk menghindari kemaksiatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.



2.  Teman bergaul kita yang jelek




Kita mengetahui bahwasannya peran seorang teman dalam kehidupan kita adalah sangat bermakna.  Dan bahkan sangat penting,  karena seorang teman  adalah orang yang akan mempengaruhi kehidupan kita.  Mungkin kalau teman kita baik,  maka dia akan mempengaruhi kita untuk melakukan hal-hal kebaikan.  Akan tetapi kalau ternyata teman kita adalah seseorang yang buruk,  yang memiliki akhlak tercela, yang selalu menyuruh kita untuk melakukan keburukan keburukan.  Menyebut kita untuk melanggar aturan-aturan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.  Maka itu adalah  suatu musibah yang sangat besar bagi diri kita.  Maka dari itu  Baginda Nabi Besar Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu,  yang hadis ini adalah hadis Hasan.  Yang sudah pasti kebenarannya dan wajib untuk kita amalkan.  Apa bunyi hadis tersebut :
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).
 Dari hadits dari hadits ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya penting bagi seorang muslim untuk memperhatikan dengan siapa dia berteman?,  dengan siapa dia berkawan karib?,  dengan siapa dia bersahabat.  Karena dengan  memilih teman diantara kita,   maka kita bisa memilih,   kita bisa memfilter,  memilah di antara semua kawan kita.   Siapa saja yang mampu menjadikan diri kita menuju surgaNya.  Dan bukan malah menjadikan diri kita terjerumus ke dalam neraka Nya.

3. Pandangan  mata yang  memandang sesuatu yang haram




 sebab ketiga yang menjadikan seorang muslim bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah karena ia tidak mampu menjaga pandangan matanya dari sesuatu yang Allah haramkan.  Kenapa hanya karena memandang sesuatu, kemudian seseorang bisa berhasiat kepada Allah?. Jawabannya adalah karena bermula dari pandangan mata maka iblis akan memainkan perannya.  Dia akan menjadikan sesuatu yang bermula dari pandangan haram tersebut  menjadi bentuk awal untuk merayu seorang hamba bermaksiat kepada Allah.  Iblis akan menjadikan pandangan mata,  yang digunakan untuk melihat yang haram untuk menjadi pintu masuk merayu seorang hamba tersebut melakukan kemaksiatan dan kemaksiatan yang  keji.
 Maka dari itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam Alquran al-karim surat an-nur ayat yang ke- 30  yang berbunyi : 


 قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ


Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” 
(QS. An-Nuur: 30)

 dari ayat ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk selalu menjaga pandangannya,  menjaga pandangannya dari sesuatu yang haram,  dari sesuatu yang Allah haramkan.  Karena di balik perintah Allah ini di sana ada manfaat yaitu agar kita bisa menghindari maksiat yang bermula dari pandangan mata ini.  Perintah dari Allah subhanahu wa ta'ala ini dikuatkan dengan hadis dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan dari sahabat jarir bin Abdullah ra ia berkata : 


سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.


“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)
  dari hadis di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwasannya sahabat jarir bin Abdullah pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam terkait pandangan mata yang tidak disengaja. Maka Nabi Muhammad Shallallahu wasallam memerintahkan sahabat Mulia tersebut supaya memalingkan pandangannya yang tidak disengaja tersebut agar tidak menjadi pintu awal terjadinya maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.  Dan tentu saja perintah ini tidak ditujukan untuk sahabat jarir bin Abdullah saja akan tetapi perintah ini diwajibkan untuk seluruh kaum muslimin dan muslimah agar mereka senantiasa memalingkan pandangannya yang tidak sengaja agar tidak menjadi di gerbang menuju kemasyarakatan yang bermula dari mata.
Maka dari itu kawan-kawan semuanya marilah kita senantiasa menjaga pandangan mata kita agar tidak bebas memandang sesuatu yang Allah haramkan.  Agar kita mampu menjaga diri ini terhindar dari jebakan setan yang bermula dari pandangan mata yang haram. 



4.  Memiliki banyak  waktu luang  yang tidak 

dimanfaatkan untuk kebaikan.







                      فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ          وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب
  7.  Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-            sungguh (urusan) yang lain,   8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
 Sebagai seorang muslim kita diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk selalu Mengisi waktu yang kita miliki dalam kebaikan. Baik itu kebaikan yang bernilai dunia, maupun kebaikan yang bernilaiakhirat. Yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta'ala, dan dilarang oleh rasul-nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.  adalah menggunakan waktu yang telah dikaruniakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala tersebut untuk hal yang sia-sia, atau bahkan kita tidak mau menggunakan waktu kita untuk hal-hal yang bernilai pahala akan tetapi kita menggunakannya untuk hal yang bernilai dosa.
 Kita hari ini melihat kondisi  kebanyakan kaum muslimin, maka kita akan mendapati sebuah mata rasanya banyak dari kaum muslimin yang masih menyia-nyiakan waktu mereka untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Mereka tidak mau menggunakan waktu yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dunia mereka, dan hal-hal yang bermanfaat bagi  akhirat mereka.
 Kemudian Kenapa memiliki banyak waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan menjadi peluang kita untuk bermaksiat?. Jawabannya adalah jika kita tidak menggunakan waktu kita untuk hal-hal bernilai pahala maka setan dengan cerdiknya akan merayu kita untuk menggunakan waktu kita dalam hal-hal yang bernilai dosa. Setan akan senantiasa menjerumuskan kita di waktu kita yang sedang Lenggang tersebut untuk menjauhi perintah-perintah Allah, meninggalkan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim atau bahkan yang lebih mengerikan adalah ah setan merayu kita untuk mengisi waktu kita yang kosong tersebut untuk hal-hal bernilai dosa.
 Karenanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda dalam Hadits Shahih yang berbunyi:


                           نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)


  ada dua kenikmatan yang menjadikan banyak manusia tertipu, mereka terlalai akan dua nikmat yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala tersebut. Nikmat tersebut adalah nikmat sehat dan waktu senggang .  Dari hadits ini Nabi Muhammad Sholeh wasallam mengingatkan kepada kita bahwa sannya waktu senggang mampu menjadikan manusia lalai, tertipu dan bahkan merugi dengan waktu yang telah diberikan Allah tersebut. Banyak manusia yang menggunakan waktu yang telah diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala tersebut untuk bermaksiat, maka merekalah orang-orang yang tertipu akan dua nikmat ini.


5.  Nongkrong di tempat-tempat yang berpotensi mendatangkan maksiat

 memang nongkrong bersama temen-temen adalah hal yang enak dan mengasyikkan, mampu menjadikan diri kita ini tertawa lepas bersama saudara-saudara dan teman-teman yang kita cintai. Akan tetapi kalau ternyata nongkrong  di tempat-tempat yang kita sukai tersebut mendatangkan maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Maka kita harus berani dan mantap untuk meninggalkan tongkrongan tongkrongan tersebut, kita harus meninggalkan tempat-tempat yang berpotensi terjadinya maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mungkin ketika kita sedang nongkrong tersebut di sana terjadi kemaksiatan kemaksiatan seperti mabuk, Judi, bermain syahwat dan lain-lainnya. Maka kita harus rela meninggalkan tempat-tempat tersebut agar kita tidak terjerumus ke dalam  kemaksiatan.
 Akan tetapi kalau kita merasa bahasanya tempat tongkrongan kita tidak menimbulkan kemaksiatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka kita boleh untuk tetap nongkrong di tempat tersebut. Akan tetapi sebagai pengingat bahwasannya jangan sampai nongkrong-nongkrong kita menjadi pengalih dari hal-hal yang bermanfaat. Sebagai contoh adalah ketika ada hal yang lebih bermanfaat dari nongkrong mungkin itu menuntut ilmu,berbakti kepada orang tua, bekerja, mengikuti kajian-kajian ilmu dan lain sebagainya maka kita harus berani untuk meninggalkan tongkrongan kita menuju hal-hal yang lebih baik dari cuma sekedar menongkrong.
 diriwayatkan dari Abu Sa'id al-khudri radhiallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda:

« إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ »

Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari no. 2465)

 dari hadis ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya Nabi Muhammad melarang umatnya untuk duduk di pinggir jalan, kemudian para sahabat bertanya kenapa Nabi Muhammad Sholeh wasallam melarang untuk nongkrong nongkrong di pinggir jalan. Dan dijawab oleh Baginda Nabi Muhammad bahwasanya jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka kalian harus mampu menunaikan hak jalan tersebut. Kemudian para sahabat bertanya wahai Rasulullah apakah ajaran tersebut yang beliau jawab bahwasanya hak jalan adalah menunjukkan menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan dijalan, menjawab salam dan Amar ma'ruf nahi mungkar,. Dari hadis ini jika kita tidak mampu menunaikan hak-hak Jalan maka kita dilarang oleh Nabi Muhammad untuk nongkrong nongkrong di pinggir jalan.


Alhamdulillahirobbilalamin sudah selesai pembahasan kita pada kesempatan kali ini ini yaitu Kenapa kita masih bermaksiat kepada Allah subhanahuwata'ala?. Semoga pembahasan mengenai sebab-sebab akan kenapa seorang muslim masih bermaksiat kepada Allah ini mampu memberikan pencerahan kepada kita. Dan mampu memberikan motivasi kepada kita untuk senantiasa meninggalkan perbuatan maksiat dan memberikan motivasi kepada kita untuk selalu beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. A min
 Wal akhir  wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Post a Comment

Previous Post Next Post